Selamat Datang Di Blog Nurdin Montacity Kabupaten Dompu

Rabu, 19 November 2014

LAPORAN FIELDTRIP KELEMBAGAAN GAPOKATAN SUMBER WARU DI PASURUAN



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang.
Field Trip adalah sebuah perjalanan lapangan atau ekskursi, yang dikenal sebagai perjalanan sekolah. Pengertian lainnya field trip adalah perjalanan oleh sekelompok orang ke tempat yang jauh dari lingkungan yang normal mereka. Tujuan perjalanan biasanya pengamatan untuk penelitian pendidikan, non-eksperimental atau untuk menyediakan mahasiswa dengan pengalaman luar kegiatan sehari-hari.
Kegiatan belajar mengajar tidak semestinya selalu dilakukan di dalam kelas, karena hal itu akan membuat peserta didik merasa jenuh dan bosan. Sesekali mereka diajak keluar kelas untuk meninjau hal-hal di sekeliling mereka yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari. Dalam hal ini merupakan penerapan dari metode fieldtrip (karyawisata), yaitu merupakan pejalanan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama pengalaman secara langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum kampus/sekolah.
Pengembangan kelembagaan merupakan salah satu komponen pokok dalam keseluruhan rancangan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) tahun 2005-2025. Sesungguhnya, selama ini pendekatan kelembagaan juga telah menjadi komponen pokok dalam pembangunan pertanian dan pedesaan. Namun, kelembagaan petani cenderung hanya diposisikan sebagai alat untuk mengimplementasikan proyek belaka, belum sebagai upaya untuk pemberdayaan yang lebih mendasar. Ke depan, agar dapat berperan sebagai aset komunitas masyarakat desa yang partisipatif, maka pengembangan kelembagaan mestilah dirancang sebagai upaya untuk peningkatan kapasitas masyarakat itu sendiri sehingga menjadi mandiri. Pembentukan dan pengembangan Gapoktan yang akan dibentuk di setiap desa, juga harus menggunakan basis social capital setempat dengan prinsip kemandirian lokal, yang dicapai melalui prinsip keotonomian dan pemberdayaan. Ada dua kebijakan penting akhir-akhir ini, yaitu pencanangan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) 2005-20025 tanggal 11 Juni 2005 di Bendungan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat; serta dikeluarkannya.
Undang Undang Nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Undang-Undang ini merupakan impian lama kalangan penyuluhan yang sudah diwacanakan semenjak awal tahun 1980-an. Lahirnya UU ini dapat pula dimaknai sebagai upaya untuk mewujudkan revitalisasi pertanian tersebut.Pada kedua kebijakan tersebut, permasalahan kelembagaan tetap merupakan bagian yang esensial, baik kelembagaan di tingkat makro maupun di tingkat mikro. Di tingkat mikro, akan dibentuk beberapa lembaga baru, misalnya Pos Penyuluhan Desa dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Departemen Pertanian menargetkan akan membentuk satu Gapoktan di setiap desa khususnya yang berbasiskan pertanian. Ini merupakan satu lembaga andalan baru yang diinisiasikan oleh Departemen Pertanian, meskipun semenjak awal 1990-an Gapoktan sesungguhnya telah dikenal. Saat ini, Gapoktan diberi pemaknaan baru, termasuk bentuk dan peran yang baru. Gapoktan menjadi lembaga gerbang (gateway institution) yang menjadi penghubung petani satu desa dengan lembaga-lembaga lain di luarnya.
Memperhatikan hal tersebut diatas, bahwa Mahasiswa semester V Jurusan Penyuluhan Pertanian STPP Malang pada mata kuliah Pengembangan Kelembagaan Petani telah melakukan kegiatan Field Trip di Kelompok Tani Bawang Merah Gapoktan Sumber Waru Desa Pabean  Kecamatan Dringu  Kabupaten Probolinggo Propinsi Jawa.

1.2  Tujuan.
1.     Agar mahasiswa mengetahui proses pertumbuhan dan perkembangan kelompok tani atau organisasi petani.
2.     Agar Mahasiswa mampu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tentang kelembagaan kelompok tani.
3.     Agar mahasiswa mendapatkan pengetahuan tentang proses budidaya bawang merah dan pemasaran serta tehnologi cara pengendalian bawang merah yang dengan bahan organik

BAB II
METODE PELAKSANAAN

2.1  Waktu dan Tempat
Kegiatan Field Trip dilaksanakan selama sehari pada Hari Rabu, Tanggal 12 November 2014 di Gapoktan Sumber Waru Desa Pabean  Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo.

2.2  Peserta
Jumlah peserta pada kegiatan Filed Trip di Gapoktan Sumber Waru Kelurahan  Kecamatan Kabupaten Probolinggo adalah sebanyak 40 orang Mahasiswa Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang jurusan penyuluhan pertanian semester V.a.

2.3. Materi
Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada tatap muka yang berlangsung di tempat usaha di Gapoktan Sumber Waru Desa Pabean  Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo, antara lain :
1.      Penyampaian materi tentang Cara Pengembangan Kelompok Tani Yang ada di kabupaten probolinggo khususnya Gapoktan Sumber Waru di Desa Pabean, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo
2.      Penjelasan tentang cara budidaya bawang merah, cara pemberantasan hama ulat grayak menggunakan jaring, cara pembuatan pestisida nabati dengan menggunakan biji mimba untuk pestisida pembunuh ulat grayak, tehnologi menggunakan lampu untuk pemberantasan hama ulat grayak dan cara pemberantasan penyakit layu fusarium pada bawang merah Penanganan Bawang Merah yang disampaikan oleh Tarsan Ketua Gapoktan Sumber Waru di Desa Pabean, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo.




BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN


3.1     Gambaran Umum Kabupaten Probolinggo
a.     Aspek Geografis
          Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu kabupaten yang termasuk wilayah Provinsi Jawa Timur, berada pada posisi 7°40’ s/d 8°10’ Lintang Selatan dan 111°50’ s/d 113°30’ Bujur Timur, dengan luas wilayah 1.696,16 km², termasuk didalamnya kawasan Pulau Giliketapang dengan luas wilayah 0,6 km².
          Kabupaten Probolinggo terletak di lereng gunung-gunung yang membujur dari Barat ke Timur, yakni Pegunungan Tengger, Gunung Lamongan dan Gunung Argopuro. Wilayah kabupaten Probolinggo terletak pada ketinggian 0 - 2500 m diatas permukaan laut, tanahnya berupa tanah vulkanis yang banyak mengandung mineral yang berasal dari ledakan gunung berapi berupa pasir dan batu, lumpur bercampur dengan tanah liat yang berwarna kelabu kekuning-kuningan. Pada ketinggian 750 - 2500 m diatas permukaan laut, cocok untuk jenis tanaman sayur-sayuran dan pada ketinggian 150 - 750 m diatas permukaan laut, yang membujur dari Barat ke Timur di bagian Selatan yang berada di kaki gunung Argopuro, sangat cocok untuk tanaman kopi, buah-buahan seperti, durian, alpukat dan buah lainnya, contoh di kecamatan Tiris dan Kecamatan Krucil.
b.   Luas Wilayah dan Letak Geografis Daerah
          Luas wilayah kabupaten probolinggo lebih kurang 1.696,16 km², terdiri atas :
a)    Pemukiman              :  147,74       km²
b)   Persawahan              :  373,13       km²
c)    Tegal                      :  513,80       km²
d)    Perkebunan              :  32,81         km²
e)    Hutan                      :  426,46       km²
f)     Tambak/Kolam        :  13,99         km²
g)    Lain-lain                   : 188,23        km²
Luas Wilayah Kabupaten Probolinggo Per Kecamatan
No.
Kecamatan
Luas (Ha)
Prosentase (%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
Sukapura
Sumber
Kuripan
Bantaran
Leces
Tegalsiwalan
Banyuanyar
Tiris
Krucil
Gading
Pakuniran
Kota Anyar
Paiton
Besuk
Krasakan
Krejengan
Pajarakan
Maron
Gending
Dringu
Wonomerto
Lumbang
Tongas
  Sumber Asih
10.208,53
14.188,13
6.674,76
4.212,83
3.680,97
4.173,56
4.569,63
16.566,69
20.252,66
14.684,64
11.385,00
4.258,00
5.327,94
3.503,63
3.779,75
3.442,84
2.134,35
5.139,27
3,.61,48
3.113,54
4.566,84
9.271,00
7.795,20
3.025,41
6,02
8,36
3,94
2,48
2,17
2,46
2,69
9,77
11,94
8,66
6,71
2,51
3,14
2,06
2,23
2,03
1,26
3,03
2,16
1,84
2,69
5,46
4,61
1,78
Jumlah
169.616.65
100%
Sumber :  Probolinggo Dalam Angka, 2009
Letak geografis daerah berbatasan dengan :
·                   Utara  : Selat Madura
·                   Timur  : Kabupaten Situbondo
·                   Barat   : Kabupaten Pasuruan
·         1. ADMINISTRASI-Model.jpg          Selatan          : Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember


BUKU PUTIH SANITASI KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2010
 
 







Sedangkan di sebelah Utara bagian tengah terdapat Daerah Otonom yaitu Kota Probolinggo.

c.     Topografi
          Secara topografis, Kabupaten Probolinggo mempunyai ciri fisik yang menggambarkan kondisi geografis, yaitu terdiri dari dataran rendah pada bagian utara, lereng-lereng gunung pada bagian tengah dan dataran tinggi pada bagian selatan, dengan tingkat kesuburan dan pola penggunaan tanah yang berbeda.
          Sedangkan bentuk permukaan daratan di Kabupaten Probolinggo di klasifikasikan atas 3 (tiga) jenis, yaitu :
a)  Dataran rendah dan tanah pesisir dengan ketinggian 0 – 100 m diatas permukaan laut. Daerah ini membentang di sepanjang pantai utara mulai dari Barat ke Timur kemudian membujur ke Selatan
b)  Daerah perbukitan dengan ketinggian 100 – 1.000 m diatas permukaan laut. Daerah ini terletak di wilayah bagian Tengah sepanjang Pegunungan Tengger serta pada bagian selatan sisi Timur sekitar Gunung Lamongan
c)  Daerah pegunungan dengan ketinggian diatas 1.000 m dari permukaan laut. Daerah ini terletak di sebelah Barat Daya yaitu sekitar Pegunungan Tengger dan sebelah Tenggara yaitu di sekitar Gunung Argopuro.

d.    Hidrologi  
Terdapat 25 sungai yang mengalir dan mengairi wilayah Kabupaten Probolinggo. Sungai terpanjang adalah Rondoningo dengan panjang 95,2 km, sedangkan sungai terpendek adalah Afour Bujel dengan panjang hanya 2 km saja.
Sungai-sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Probolinggo tersebut sangat dipengaruhi oleh iklim yang berlangsung tiap tahun. Pada saat musim kemarau, sebagian besar sungai yang mengalir mengalami kekeringan kecuali sungai-sungai besar (yaitu sungai-sungai utama) yang masih tergenang terus sepanjang tahun.






Sungai di Kabupaten Probolinggo
No.
Nama Sungai
Panjang
Lebar
Debit Air
Baku Lahan
(Km)
(M)
(Minimum)
(Ha)
1
K. Rondoningo
95,20
26,00
± 200
3.36
Cabdin. Kraksaan
2
K. Pandan Laras
43,50
26,00
± 1.300
2.85
Cabdin. Kraksaan
3
K. Kertosono
39,70
25,00
± 100
570.00
Cabdin. Kraksaan
4
K. Kandang Jati
8,00
8,00
± 100
507.00
Cabdin. Kraksaan
5
K. Besuk
13,20
8,00
± 100-200
173.00
Cabdin. Kraksaan
6
K. Jabung
20,50
8,00
±  300
465.00
Cabdin. Kraksaan
7
K. Pancarlagas
85,70
50,00
± 200
3.30
Cabdin. Kraksaan
8
K. Legundi
12,50
6,00
-
-
Cabdin. Probolinggo
9
K. Paiton
18,00
20,00
± 100
454.00
Cabdin. Kraksaan
10
K. Kresek
24,50
25,00
± 100
786.00
Cabdin. Kraksaan
11
K. Taman
24,10
12,00
± 5-10
240.00
Cabdin. Kraksaan
12
K. Curah Manjangan
5,00
9,00
± 50
34.00
Cabdin. Probolinggo
13
K. Klumprit
12,50
12,00
± 50
53.00
Cabdin. Probolinggo
14
K. Lumbang/Bayeman
17,50
13,00
± 75
125.00
Cabdin. Probolinggo
15
K. Blibis
20,00
15,00
-
-
Cabdin. Probolinggo
16
K. Blabo
10,00
10,00
± 50
213.00
Cabdin. Probolinggo
17
K. Besi
15,50
15,00
± 5-10
183.00
Cabdin. Probolinggo
18
K. Patalan
22,50
18,00
± 50
72.00
Cabdin. Probolinggo
19
K. Kedung Galeng
38,00
35,00
± 100
564.00
Cabdin. Probolinggo
20
K. Banyubiru
11,00
18,00
± 300
697.00
Cabdin. Probolinggo
21
K. Gending
20,00
20,00
± 300
-
Cabdin. Probolinggo
22
K. Klaseman
11,00
15,00
± 100-200
-
Cabdin. Probolinggo
23
K. Pekalen
35,10
35,00
± 3.300
6.98
Cabdin. Probolinggo
24
Afour Bujel
2,00
5,00
-
-
Cabdin. Probolinggo
25
K. Lawean      
16,70
25,00
± 200
369.00
Cabdin. Probolinggo
Sumber       : Kabupaten Probolinggo Dalam Angka, 2008 & Laporan Akhir Master Plan Air Bersih 2007 
Keterangan : -) Tidak ada data

          Selain sungai di Kabupaten Probolinggo juga terdapat danau/ranu yaitu Ranu Segaran, Ranu Agung, Ranu Segaran Duwas dan Ranu Gedong yang belum didayagunakan sebagaimana mestinya. Lokasi semua danau tersebut berada di Kecamatan Tiris, sedang lokasi desanya dapat dilihat pada Tabel berikut :




Danau atau Ranu di Kabupaten Probolinggo
No
Nama Danau
Luas (Ha)
Lokasi
1.
Ranu Segaran*
30.000
Desa Segaran, Kecamatan Tiris
2.
Ranu Agung*
Segaran Agung
20.813
Desa Ranuagung, Kecamatan Tiris
3.
Ranu Segaran Duwas*
23.000
Desa Tlogoargo, Kecamatan Tiris
4.
Ranu Merah*
18.000
Desa Andungsari
5.
Ranu Gedang*
10.000
Desa Andung Sari, Kecamatan Tiris

Ranu Citakan*
-
Desa Andung Sari, Kecamatan Tiris

Ranu Kembar*
-
Desa Andung Sari, Kecamatan Tiris

Ranu Bintaro*
-
Desa Andung Sari, Kecamatan Tiris
6.
Danau Ronggojalu
2.5
Kecamatan Tegalsiwalan
Sumber       : Kabupaten Probolinggo  Dalam Angka, 2008 & Lembar Koreksi FGD Kec. Tiris 2009
Keterangan : -) Tidak ada data
                   
          Selain itu tercatat pula sumur yang umumnya berupa sumur gali dan beberapa sumur bor. Kedalaman dari sumur-sumur gali berkisar 3 - 30 m. Kedalaman ini berarti air tanah dangkal sampai sedang dan sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim, sedangkan kedalaman sumur bor yang merupakan air tanah dalam berkisar 40-200 m.
          Sumur bor yang sudah ada mempunyai debit yang cukup besar, sebagian untuk kebutuhan air minum dan sebagian besar lainnya diperuntukkan irigasi, hal ini mengingat pada saat musim kemarau sebagian besar daerah mengalami kekeringan.
          Ditinjau dari sisi kedalaman air tanah, 62,56 % dari luas wilayah Kabupaten Probolinggo memiliki kedalaman > 90 m; seluas 11,17 % kedalaman air tanahnya antara 60 – 90 m; dan selebihnya 26,27 % mempunyai kedalaman air tanah  < 60 m.
e.    Klimatologi
          Curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada  bulan Desember sampai dengan Maret. Curah hujan selama tahun 2007 berkisar antara 800–1.500 mm untuk dataran rendah, dan berkisar 1.500–2.850 mm untuk dataran tinggi dengan rata-rata intensitas hujan  sebesar  22,226 mm/hari. Jumlah curah hujan rata-rata dalam setahun di Kabupaten Probolinggo sebesar 1.713 mm/tahun dengan hari hujan rata-rata  75.41 hari. Suhu udara beragam rata-rata antara 27°C hingga 32°C pada bagian Utara, sedangkan di wilayah pegunungan Argopuro dan Tengger, yaitu di Kecamatan Tiris, Krucil, Sumber dan Sukapura suhu udaranya berkisar antara 5°C hingga 15°C.
f.     Jenis Tanah
Jenis tanah penting untuk diketahui terutama usaha pengembangan budidaya pertanian. Dilihat dari tekstur tanahnya, maka jenis tanah yang mendominasi adalah tanah latosol yang berasal dari tanaman perkebunan, sawah dan hutan tropika. Jenis tanah lainnya adalah alluvial, regosol, andosol, mediteran dan gromossol.

g.    Luas dan Sebaran Kawasan Budidaya
          Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan sebagai fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan. Klasifikasi kawasan budidaya meliputi kawasan perkotaan dan kawasan pedesaan, dengan berbagai jenis peruntukan dapat dilihat pada tabel berikut :
Luas Peruntukan Kawasan Budidaya (Ha)
No
Peruntukan
Luas
Prosen
1.
Hutan
55.796,68
32,89
2.
Tegal
52.801,95
31,13
3.
Sawah
38.509,00
22,70
4.
Perkampungan/Permukiman
12.904,04
7,60
5.
Perkebunan Swasta/Rakyat
2.009,30
1,18
6.
Tanah Rusak/Padang Rumput
2.413,96
1,42
7.
Tambak
1.320,06
0,77
8.
Kebun Campur
1.186,57
0,69
9.
Industri
866,56
0,51
10.
Hutan Rakyat
625,32
0,37
11.
Danau/Rawa
138,00
0,08
12.
Lain-lain
1.045,36
0,66

Jumlah
169.616,80
100
          Dari tabel 2.4 terlihat bahwa peruntukan lahan di Kabupaten Probolinggo didominasi oleh hutan (32,89 %), tegalan (31,13 %), serta persawahan (22,70 %). Sedangkan lahan permukiman yang merupakan kawasan terbangunnya hanya meliputi 7,60 % dari seluruh luas lahan.
          Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilyah Kabupaten Probolinggo Tahun 2013, rencana peruntukan kawasan budidaya yang ditetapkan dapat dilihat pada tabel berikut:
Luas Kawasan Budidaya (Ha)
No
Kawasan Budidaya
Luas Kawasan
Prosen
1.
Kawasan Hutan Produksi
28.829,10
17,00
2.
Kawasan Pertanian & Peternakan
40.081,07
23,63
3.
Kawasan Perkebunan
38.649,00
22,79
4.
Kawasan Perikanan
3.227,00
1,90
5.
Kawasan Pariwisata
1.700,00
1,00
6.
Kawasan Permukiman
18.248,00
10,76
7.
Kawasan Perindustrian
3.272,00
1,93
8.
Kawasan Pertambangan
10,00
0,01
9.
Kawasan Khusus
1.550,00
0,91
10
Luas Kawasan Budidaya
135.566,17
79,93
11
Luas Kabupaten Probolinggo
169.616,80
100
Sumber badan Pertanahan Nasional Kabupaten Probolinggo
3.2        Pelaksanaan Kegiatan
Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada Fieldtrip di Gapoktan Sumber Waru Kabupaten Probolinggo Propinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut:
a.    Awal Pembentukan Kelompok
Pembentukan kelompok / Gapoktan “ Sumber Waru “ dibentuk pada tahun 1990, kelompok  yang bergabung tergabung adalah satu sampai empat kelompok dan jumlah keseluruhan anggota kelompok sebanyak 173 orang anggota.
Pemberdayaan petani dan usaha kecil di pedesaan oleh pemerintah hampir selalu menggunakan pendekatan kelompok. Salah satu kelemahan yang mendasar adalah gagalnya pengembangan kelompok dimaksud, karena tidak dilakukan melalui proses sosial yang matang. Kelompok yang dibentuk terlihat hanya sebagai alat kelengkapan proyek, belum sebagai wadah untuk pemberdayaan masyarakat secara hakiki. Introduksi kelembagaan dari luar kurang memperhatikan struktur dan jaringan kelembagaan lokal yang telah ada, serta kekhasan ekonomi, sosial, dan politik yang berjalan. Pendekatan yang top-down planning menyebabkan tidak tumbuhnya partisipasi masyarakat.

Pembentukan Gapoktan, meskipun nanti dapat saja menjadi lembaga yang mewakili kebutuhan petani sebagai representattive institution, namun awal terbentuknya bukan dari kebutuhan internal secara mengakar. Ini merupakan gejala yang berulang sebagaimana dulu sering terjadi, yaitu hanya mementingkan kuantitas belaka, namun tidak berakar di masyarakat setempat.Pembentukan Gapoktan didasari oleh visi yang diusung, bahwa pertanian modern tidak hanya identik dengan mesin pertanian yang modern tetapi perlu ada organisasi yang dicirikan dengan adanya organisasi ekonomi yang mampu menyentuh dan menggerakkan perekonomian di pedesaan melalui pertanian, di antaranya adalah dengan membentuk Gapoktan (Sekjend Deptan, 2006). Unit-unit usaha dalam Gapoktan dapat menjadi penggerak perekonomian di pedesaan. Untuk mendukung rencana tersebut, tiap propinsi mulai tahun 2007 diwajibkan untuk membuat cetak biru (master plan) pengembangan agribisnis di Kabupaten/Kota sesuai komoditas unggulan.Menurut Keputusan Menteri Pertanian Nomor 93/Kpts/OT.210/3/1997 tentang Pedoman Pembinaan Kelompok Tani-Nelayan, “Gabungan Kelompok Tani” adalah gabungan dari beberapa kelompok tani yang melakukan usaha agribisnis di atas prinsip kebersamaan dan kemitraan sehingga mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usahatani bagi anggotanya dan petani lainnya. Gapoktan merupakan Wadah Kerjasama Antar Kelompok tani-nelayan (WKAK), yaitu kumpulan dari beberapa kelompok tani-nelayan yang mempunyai kepentingan yang sama dalam pengembangan komoditas usaha tani tertentu untuk menggalang kepentingan bersama. Dalam Kepmen tersebut, dibedakan antara Gapoktan dengan Asosiasi Petani-Nelayan. Dalam batasan ini, asosiasi adalah kumpulan petani-ne!ayan yang sudah mengusabakan satu atau kombinasi beberapa komoditas petanian secara komersial.Disini terlihat, bahwa pengembangan Gapoktan merupakan suatu proses lanjut dari lembaga petani yang sudah berjalan baik, misalnya kelompok-kelompok tani. Dengan kata lain, adalah tidak tepat langsung membuat Gapoktan pada wilayah yang secara nyata kelompok-kelompok taninya tidak berjalan baik. Ketentuan ini sesuai dengan pola pengembangan kelembagaan secara umum, karena Gapoktan diposisikan sebagai institusi yang mengkoordinasi lembaga-lembaga fungsional di bawahnya, yaitu para kelompok tani.Pemberdayaan Gapoktan tersebut berada dalam konteks penguatan kelembagaan. Untuk dapat berkembangnya sistem dan usaha agribisnis diperlukan penguatan kelembagaan baik kelembagaan petani, maupun kelembagaan usaha dan pemerintah agar dapat berfungsi sesuai dengan perannya masing-masing. Kelembagaan petani dibina dan dikembangkan berdasarkan kepentingan masyarakat dan harus tumbuh dan berkembang dari masyarakat itu sendiri.
Kelembagaan pertanian tersebut meliputi kelembagaan penyuluhan (BPP), kelompok tani, Gapoktan, koperasi tani (Koptan), penangkar benih, pengusaha benih, institusi perbenihan lainnya, kios, KUD, pasar desa, pedagang, asosiasi petani, asosiasi industri olahan, asosiasi benih, P3A, UPJA, dan lain-lain.Upaya pemberdayaan desa seyogyanya tidak dilakukan dengan berbasis pada suatu “grand scenario”, karena hal yang seperti itu tidak pernah mampu memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan. Yang diperlukan pada saat ini dalam rangka pemberdayaan masyarakat desa adalah membangun prinsip dasar yang dapat dijadikan sebagai sebuah acuan dalam perumusan kebijaksanaan pemberdayaan desa, yang disusun sendiri secara otonom oleh masing-masing derah. Dua prinsip dasar yang disebutkan sebelumnya (penciptaan peluang dan peningkatan kemandirian memanfaatkan peluang tersebut) masih perlu dilengkapi dengan prinsp-prinsip lainnya, yang diharapkan mucul dari forum ini.
Pembentukan dan penumbuh Gapoktan mestilah ditempatkan dalam konteks yang lebih luas yaitu konteks pengembangan ekonomi dan kemandirian masyarakat menuju pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Rural Development). Gapoktan hanyalah alat, dan merupakan salah satu opsi kelembagaan yang dapat dipilih; bukan tujuan dan juga bukan keharusan. Penggunaan kelembagaan yang semata-mata hanya untuk mensukseskan kegiatan lain, dan bukan untuk pengembangan kelembagaan itu sendiri, sebagaimana selama ini; hanya akan berakhir dengan lembaga-lembaga Gapoktan yang semu, yang tidak akan pernah eksis secara riel.
Oleh sebab itu Pembentukan kelompok ini difaslitasi oleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian Kabupaten Probolinggo dan rutin dikunjungi / dibina oleh penyuluh yang mempunyai wilayah binaan di Desa Pabean.
Gapoktan Sumber Waru Mempunyai kegiatan :
1)    Budidaya Bawang Merah
2)    Membuat pupuk organic
3)    Membuat Pestisida nabati
b.    Struktur Organisasi Gapoktan Sumber Waru
Pengorganisasian (organizing) merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Aspek utama proses penyusunan organisasi adalah patementalisasi dan pembagian kerja. Pengorganisasian mempunyai bermacam-macam pengertian. Istilah tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan hal-hal berikut ini :
1.      Cara menajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumber daya-sumber daya keuangan, fisik, bahan baku, dan tenaga kerja organisasi.
2.      Bagian organisasi mengelompokkan kegiatan-kegiatannya, dimana setiap pengelompokan diikuti dengan penugasan seorang manajer yang diberi wewenang untuk mengawasi anggota-anggota kelompok.
3.      Hubungan-hubungan antara fungsi-fungsi, jabatan-jabatan, tugas-tugas dan para karyawan.
4.      Cara dalam para manajer membagi lebih lanjut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam departemen mereka dan mendelegasikan wewenang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tersebut.

           Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan diantara para anggota organisasi. Pelaksanaan proses pengorganisasian yang sukses, akan membuat suatu organisasi dapat mencapai tujuannya.
1.      Pembagian kerja.
2.      Departementalisasi.
3.      Bagan organisasi formal.
4.      Rantai perintah dan kesatuan perintah.
5.      Tingkat-tingkat hirarki manajemen.
6.      Saluran komunikasi.
7.      Penggunaan komite.
8.      Rentang manajemen dan kelompok-kelompok informal.


Gapoktan Sumber Waru mempunyai struktur organisasi yang jelas seperti terlihat pada gambar berikut:












c.      Jenis Usaha Yang Dikembangkan
Adapun jenis usaha yang dikembangkan oleh Gapoktan Sumber Waru Desa Pabean Kabupaten Probolinggo Propinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut:
1)    Budidaya Bawang Merah
Petani di Desa Pabean sedikit demi sedikit melirik tentang budidaya bawang merah karena harga bawang merah di Kabupaten Pasuruan sangat tinggi dipasaran, secara teknis yang paling baik untuk menanam budidaya bawang merah pada bulan April, Mei dan Juli dan harga bawang merah mencapai 50.000 / kilo, maka kecamatan ini menjadi lautan bawang merdah. Untuk mencukupi kebutuhan akan benih anggota Gapoktan Sumber Waru adalah melakukan penangkaran benih dan tidak lagi membeli benih bawang dari luar.

Penyeleksian benih diseleksi oleh anggota gapoktan itu sendiri sehingga mendapatkan benih bersertivikat dan berhasil menciptakan varietas baru yang diberisertivikat oleh kementrian pertanian yaitu Varietas “ Biru Lancor “

2)    Membuat Pupuk Organik
Untuk mengatasi hama dan penyakit yang menyerang tanaman bawang merah, Gapoktan Sumber Waru melakukan pembuatan Pupuk Organik dan Pestisida nabati supaya menghindari residu bahan kimia yang berlebihan sehingga pupuk organic dan pestisida nabati bukan hanya digunakan oleh anggota Gapoktan saja dan mereka membuat pupuk ini untuk dipasarkan diluar sehingga mendapat nilai tambah bagi penghasilan Gapoktan Sumber Waru.

























BAB IV
PENUTUP


4.1  Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari kegiatan pelaksanaan Fieldtrip di Gapoktan Sumber Waru Desa Pabean Kabupaten Probolinggo adalah sebagai pengetahuan tentang pengembangan kelembagaan petani yang secara langsung bisa bertatap muka dan berdiskusi langsung dengan pengelola Gapoktan sehingga dapat menarik pengalaman yang luar biasa tentang perkembangan dan kemajuan Gapoktan Sumber Waru
Pada prinsipnya kegiatan filed trip berjalan sesuai rencana dan peserta telah mendapat banyak pengalaman terhadap penerapan teknologi budidaya bawang merah dan budidaya padi dengan pola SRI serta cara yang dilakukan gapoktan sumber waru dalam mempertahan keutuhan gapoktan yang masih eksis yang mulai berdirinya pada tahun 1990 sampai dengan saat ini serta tehnik metode yang digunakan dalam mempertahankan keutuhan gapoktan Sumber Waru Desa Pabean Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo.

4.2  Saran
Guna mengarah kegiatan field trip agar sesering mungkin dilaksanakan kegiatan tersebut dan disesuaikan dengan kondisi wilayah dan agroekosistem, di harapkan agar para mahasiswa setelah kegiatan field trip mampu menerapkan ilmunya sesuai dengan kondisi agroklimatnya.









MAIRA NDAI KATAHO DANA RORASA