Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 November 2015

ANJURAN PEMUPUKAN BERIMBANG

PENYULUH PERTANIAN DESA RIWO KECAMATAN WOJA KAB. DOMPU | Kamis, 19 November 2015,01.39 | Be the first to comment!
ANJURAN PEMUPUKAN BERIMBANG Penerapan pemupukan berimbang N, P, K dan S untuk tanaman padi, palawija dan sayuran sudah berkembang sejak tahun 1978, namun belum semua petani melakukan sesuai teknologi yang dianjurkan. 
Pada umumnya penggunaan pupuk oleh petani masih cenderung kepada penggunaan pupuk N, sedangkan pupuk P, K dan pupuk Organik masih kurang mendapat perhatian. 
Anjuran teknologi pemupukan untuk tanaman padi dan palawija didasarkan atas Wilayah Kerja Penyuluhan Pertanian (WKPP) dan anjuran di daerah sudah mencakup penggunaan N, P, K dan S. Khususnya pada tanaman padi , dosis anjuran pemupukan N pada musim hujan lebih rendah daripada musim kemarau pada tingkat dosis P, K dan S yang sama. 
Pupuk anroganik utama yang digunakan untuk keperluan tanaman pangan dan hortikultura adalah pupuk Urea, SP-36, KCL dan ZA 
Manfaat dari masing-masing jenis pupuk tersebut berbeda satu sama lainnya dan sifatnya saling melengkapi terhadap pertumbuhan tanaman. Adapun manfaat dari setiap jenis pupuk tersebut adalah sebagai berikut :

UREA 
Pupuk Urea diperlukan tanaman untuk memenuhi kebutuhan akan unsur hara Nitrogen (N). 
Adapun manfaat dari unsur N adalah : 
Menjadikan bagian daun menjadi hijau segar sehingga banyak mengandung butir hijau daun yang diperlukan dalam proses fotosintesa. 
Mempercepat pertumbuhan vegetatif tanaman (tinggi, jumlah anakan, tunas dan lain-lain) sehingga memperbanyak produksi serta menambah kandungan protein dari hasil tanaman. 

ZA 
Pupuk ZA diperlukan tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara Nitrogen (N) dan Belerang (S). 
Adapun manfaat dari unsur hara Belerang (S) adalah :
Membantu pembentukan butir hijau sehingga daun lebih hijau. 
Menambah kandungan protein dan vitamin tanaman. 
Berperan dalam sintesa minyak yang berguna pada proses pembuatan gula. 
Memacu pertumbuhan anakan produktif. 
Pemberian belerang mempunyai pengaruh yang positif terhadap hasil produksi padi sawah. 

SP-36 
Pupuk Sp-36 diperlukan tanaman untuk memenuhi kebutuhan akan unsur hara Fosfat (P) 
Adapun manfaat dari unsur hara Fosfat (P) adalah : 
Memacu pertumbuhan akan dan pembentukan sistim perakaran yang baik sehingga dapat mengambil unsur hara lebih banyak dan pertumbuhan tanaman menjadi lebih sehat dan kuat. 
Menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. 
Mempercepat pertumbuhan jaringan tanaman yang membentuk titik tumbuh tanaman. 
Memacu pertumbuhan generatif tanaman yaitu mempercepat pembentukan bunga dan masaknya buah/bji sehingga mempercepat masa panen. 
Memperbesar prosentase pembentukan bunga menjadi buah dan biji. 

KCL 
Pupuk KCL diperlukan oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara Kalium (K). 
Adapun manfaat unsur hara Kalium (K) adalah : 
Memperlancar proses fotosintesa. 
Memacu pertumbuhan tanaman pada tingkat permulaan 
Memperkuat ketegaran batang sehingga mengurangi resiko mudah rebah. 
Mengurangi kecepatan pembusukan hasil selama pengangkutan dan penyimpanan. 
Menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama, penyakit dan kekeringan. 
Memperbaiki mutu hasil yang berupa bunga dan buah (rasa dan warna).

Jumat, 13 November 2015

Penanaman Padi Dengan Sistim Baru "HAZTON"

PENYULUH PERTANIAN DESA RIWO KECAMATAN WOJA KAB. DOMPU | Jumat, 13 November 2015,04.22 | Be the first to comment!

Langkah Jitu Budidaya Padi dengan Pola Hazton

 

Daerah-daerah lain di Indonesia pun diharapkan bisa menerapkan metode ini demi mengurangi ketergantungan impor beras. FOTO : ISTIMEWA
Pola Hazton merupakan pola penanaman padi yang menggunakan hingga 20 bibit per lubang tanam. Hal ini jauh berbeda dari  metode konvensional yang hanya menggunakan 3-5 bibit perlubang tanam.

Pengembangan metode ini dilatar belakangi keinginan Bank Indonesia Provinsi Kalbar yang bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanam Pangan dan Hortikultura Kalbar dan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kalbar serta Tim Pengendali Inflansi Daerah Kalbar.

Tentu saja metode ini tidak terbatas di Provinsi Kalbar, daerah-daerah lain di Indonesia pun diharapkan bisa menerapkan metode ini demi mengurangi ketergantungan impor beras.
Berikut ini tahapan dalam Budidaya dengan metode Hazton adalah sebagai berikut:

Persiapan Lahan
Pertama, rumput/jerami dibersihkan (dipotong atau dengan herbisida) kemudian lakukan pengolahan tanah, sekaligus aplikasikan pupuk organik/kandang sebanyak 500-1.000 kg/Ha dan SP- 36 sebanyak 150 kg/ha.

Sterilisasi Lahan
Proses sterilisasi lahan tanam dapat dilakukan dengan menggunakan 1 sachet DECOPRIMA (100 gr), dilarutkan dalam 1-2 liter air didiamkan selama 3-6 jam kemudian diencerkan untuk 100 liter air, dan disemprotkan merata menggunakan sprayer di jerami yang telah disebarkan merata di lahan. Pastikan kondisi jerami tetap lembab/berair (macak-macak) supaya proses dekomposisi berjalan optimum. Keperluan untuk 1 ha sawah = 400 liter/ha (4-5 saset).

Persiapan Benih
Benih padi yang dibutuhkan adalah sekira 100-120 kg/ha, dan pilihlah benih unggul.

Imunisasi Benih
Benih direndam dengan air yang dicampur BactoPlus Padi selama 24 jam. Satu tablet BactoPlus Padi untuk 5-10 kg gabah.

Pemeraman Benih
Setelah diperam dalam karung goni lembab selama 24-48 jam, benih tumbuh tunas dan akar siap ditabur/disemai di pesemaian. Kemudian benih yang sudah diperam (sudah keluar akar) ditabur merata di bedengan pesemaian. Agar terhindar serangan burung, benih yang telah ditabur dipukul-pukul/dibenamkan sedikit di dalam lumpur

Imunisasi Padi di Pesemaian (saat umur 7-15 hari setelah semai)
Proses ini menggunakan 1 tablet Bactoplus kemudian dilarutkan 100 cc air, dibiarkan 6-12 jam, dicampur air 15 liter (1 tangki semprot).

Umur Bibit
Umur bibit 25-30 hari ditanam dengan 20-30 bibit/lubang

Jarak Tanam
Jarak tanamn padi menggunakan Sistem Jajar Legowo (4:1, 2:1). Jarak tanam 25x20/40.

Pemupukan
Aplikasi pupuk urea 50 kg dan NPK 50 kg pada umur 5-7 hari setelah tanam
Aplikasikan PPC (Pupuk Pelengkap Cair) pada umur 7, 17, 27 dan 37 hari setelah tanam.
Aplikasi probiotik Bactoplus Padi pada umur padi: 12, 24, dan 45 hst. Dapat dicampur dengan insektisida (Bahan aktif : Abamiktin 2 cc/liter)
Aplikasi Pupuk Susulan: Pupuk Urea 50 kg, NPK 100 kg, dan KCl 50 kg pada umur 25 hari setelah tanam.


Sistim Jajar Legowo

PENYULUH PERTANIAN DESA RIWO KECAMATAN WOJA KAB. DOMPU | ,03.42 | Be the first to comment!

Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo


Banyak hal yang mempengaruhi proses meningkatnya produksi padi, mulai dari penggunaan bibit unggul, pemupukan yang tepat sasaran, pengairan yang tepat, pengendalian hama penyakit, dan lain sebagainya. Pada saat ini ada cara yang bisa di tempuh oleh petani dalam proses meningkatkan produksi padi salah satu yang bisa di pilih yaitu dengan Cara Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo

Legowo” di ambil dari bahasa jawa yang berasal dari kata “Lego” yang berarti Luas dan “Dowo” yang berarti panjang. Tujuan utama dari Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo yaitu meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir.

Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo

Yang berdasarkan pengalaman, tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan produksi padi lebih tinggi dan kualitas dari gabah yang lebih baik, ini dikarenakan tanaman padi di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak. Itulah sebabnya sistem jajar legowo menjadi salah satu pilihan dalam proses meningkatkan produksi gabah.

Tipe sistem jajar Legowo

  1. Jajar Legowo 2:1 – Setiap dua baris diselingi satu baris yang kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan pada jarak tanam dalam baris yang memanjang di perpendek menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya.
  2. Jajar Legowo 3:1 – Setiap tiga baris tanaman padi di selingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya
  3. Jajar Legowo 4:1 – setiap empat baris tanaman padi diselingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya

Berikut merupakan gambar dari Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo

Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo

Dilihat dari gambar Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo maka dapat dilihat peningkatan popolasi dari tanaman padi yang ditanam, secara umum rumus peningkatan jumlah populasi tanaman padi dapat dilihat dengan rumus 100% X  1 : ( 1 + jumlah legowo)

Sebagai Contoh,

  • Jika Legowo 2:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 2) = 33,3 %
  • Jika Legowo 3:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 3) = 25 %
  • Jika Legowo 4:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 4) = 20 %
  • Jika Legowo 5:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 5) = 16,7 %

Gambar Caplakan

•    Menggunakan  2 Caplakan

Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
  Sumber : http://ptmbplusagro.wordpress.com

•    Menggunakan 1 Caplakan

Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
 Sumber: http://farmingblogger.blogspot.com

Manfaat yang dirasakan ketika Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo

  1. Menambahnya jumlah tanaman padi
  2. Akan meningkatkan produksi tanaman padi secara signifikan
  3. Memperbaiki kualitas gabah karena akan semakin banyaknya tanaman pinggir
  4. Dapat mengurangi serangan penyakit pada tanaman padi
  5. Dapat mengurangi tingkat serangan hama tanaman padi
  6. Akan mempermudah dalam perawatan tanaman padi baik dalam proses pemupukan maupun penyemprotan pestisida
  7. Dapat menghemat pupuk, karena yang dipupuk hanya di bagian dalam baris tanaman saja

Kelemahan ketika Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo

  1. Akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama pada saat melakukan proses penanaman padi
  2. Membutuhkan benih yang lebih banyak, ini dikarenakan  semakin banyaknya populasi tanaman padi
  3. Pada umumnya pada lahan yang menggunakan jajar legowo, maka akan lebih banyak ditumbuhi rumput

Kamis, 29 Oktober 2015

Bakteri Merah Bermanfaat Untuk Padi dan Kedelai

PENYULUH PERTANIAN DESA RIWO KECAMATAN WOJA KAB. DOMPU | Kamis, 29 Oktober 2015,04.41 | 1 Comment so far

MENGENAL  BAKTERI MERAH SI PELINDUNG PADI

Dalam beberapa bulan terakhir ini,ada perbincangan  hangat di kalangan penggiat Agens hayati di daerah saya tentang kehadiran kehadiran alternatif agens hayati yang dapat mengendalikan sebagian besar hama terutama wereng batang coklat (WBC) yang selama ini ditakuti petani.Bakteri Merah/BM (Serratia Marcessence); begitu jenis bakteri ini diberi nama memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh agens hayati lain dari jenis fungi  seperti Verticillium,Metharizium,Baveria Bassiana  karena memiliki spektrum yang lebih luas bahkan dalam beberepa penelitian BM mampu berperan sebagai bakteri antagonis bakteri Xantomonas Oryzae penyebab penyakit kresek /ngelaras (bhs jawa) pada padi.Sehingga saya ingin mengangkat BM sebagai bahan tulisan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi petani sekalian.

Apa itu Bakteri Merah?
Serratia Marcessence atau yang biasa disingkat dengan BM adalah salah satu spesies bakteri entomopatogen oportunistik gram negatif dari famili enterobacteriaceae .Nama Serratia sendiri diambil dari nama fisikawan italia Serafino Serrati dan Marcessence berarti memudar (Wikipedia ).Bakteri ini memiliki karakter sangat motil karena memiliki flagela peritrik habitatnya bisa di air,tanah,permukaan daun ,pencernaan binatang dan manusia (Susetyo HP,2012),menghasilkan pigmen merah yang sangat banyak,koloni sangat  berlendir,oksidase negatif,mereduksi nitrat,menghasilkan enzim  D-nase,gelatinase,kitinase,Lipase,Lekininase,dan enzim Estarase(De Guzman,2012).Uniknya Serratia bisa tumbuh dalam 2 kondisi  aerob dan anaerob.Pertumbuhan yang optimum  semua strain serratia adalah pada PH 5-9 dan pada suhu 20-37 C.Semua strain akan terhambat pertumbuhannya pada PH <4,5 dan suhu diatas 45 C.Proses infeksi terhadap inang adalah melalui oral;masuk kedalam pencernaan memperbanyak diri dan merusak sistem pecernaan serangga.Serangga yang terinfeksi biasanya berwarna merah setelah itu menghitam dan berbau busuk dalam beberapa hari kemudian.

Efektifitas Bakteri Merah terhadap hama/serangga.
Hasil penelitian BB Biogen menyimpulkan bakteri merah yang diisolasikan dari wereng batang coklat (WBC) yang terinfeksi terbukti bersifat patogen terhadap WBC dan jenis serangga lainnya.Sel bekteri yng diaplikasikan dengan konsentrasi 106 – 107sel/ml mampu membunuh WBC 65,6%-78,2 % dalam rata-rata 6,8 hari setelah aplikasi.Dalam penelitian lain pula disebutkan Baketri merah pula dilaporkan bersifat patogen terhadap Spodoptera exigua,Plutella xylotella,Crocidolomia binotalis,Kutu daun mangga,dan belalang kembara.Bakteri merah pun Jika diperbandingkan dengan agens hayati lain seperti Baveria bassiana,Verticillium sp bahkan dengan insektisida kimia Imidakloprit 200 mg/l sekalipun ternyata lebih unggul dengan tingkat penurunan populasi kutu daun mangga sebesar 67,94% ,diikuti Verticillium sp 63,35%,Baveria bassiana 47,07% dan terakhir imidakloprit sebesar 45,40% setelah 7 hari aplikasi.Laporan petani apel di Nongko jajar Pasuruan Jawa Timur juga menunjukkan bakteri merah sangat ampuh memberantas kutu sisik yang sulit dikendalikan dengan insektisida kimia.

Bakteri Merah juga efektif terhadap Kresek
Potensi patogen bakteri merah ternyata juga efektif terhadap perkembangan infeksi  Xantomonas oryzae.Pigmen merah yang merupakan hasil metabolit sekunder serratia marcessence yang diisolasi dari WBC yang terinfeksi terdeteksi sebagai prodigiosin .Prodigiosin adalah metabolit sekunder multi aspek yang mempunyai aktifitas anti bakterial,anti fungal, dan anti protozoal,bersifat cytotoxic.Kemampuan tambahan ini pula diharapkan bakteri merah mampu berefek ganda mematikan hama dan menekan pekembangan bakteri  dan fungi patogen semacam Xantomonas dan Blast yang sering menyerang tanaman padi.

Perbanyakan Bakteri Merah
Karena sifatnya yang bisa tumbuh dalam kondisi aerob dan anaerob maka bakteri ini mudah dibiakkan.Media yang biasa digunakan adalah EKG (Ekstrak Kentang Gula),Ekstrak Kedelai,atau dibiakkan dalam ekstrak keong mas seperti yang diulas dalam tulisan sebelumnya.Cara perbanyakannya adalah sbb:

Bahan:
1.Kentang  1,5 kg
2.Gula pasir 75 gram
3.Air 5 liter
4.Isolat Serratia/bakteri merah 1 tabung.

5.Aerator aquarium
6.Galon Aqua

Cara pembuatan:
1.Kentang dikupas potong dadu, direbus bersama gula dan air hingga mendidih.
2.Masukkan dalam galon sterilisasi selama 2 jam dalam dandang.
3.Setelah dingin masukkan isolat dan difermentasi secara aerob dengan bantuan aerator.
4.Setelah 10-14 hari larutan siap digunakan.

Dosis Aplikasi:
Diencerkan  dengan dosis 5 -10 cc per liter air.Aplikasi pada pagi atau sore hari dan alat semprot harus bersih dari pestisida.
Selamat Mencoba….

Sumber:
1.Wikipedia

Jumat, 23 Oktober 2015

CARA BUDIDAYA BAWANG PUTIH

PENYULUH PERTANIAN DESA RIWO KECAMATAN WOJA KAB. DOMPU | Jumat, 23 Oktober 2015,20.22 | Be the first to comment!


 Bawang Putih Dataran Rendah


cara menanam bawang putih hidroponik, cara menanam bawang putih tunggal, cara tanam bawang putih, budidaya bawang putih tunggal, budidaya bawang putih pdf, budidaya bawang putih dalam polybag, cara menanam bawang putih di polybag, cara menanam bawang merah
Menanam bawang itu gampang, ujar Mihartono, mantan ketua kelompok tani di Srunggo, Imogiri. Tentu saja kita harus memperhatikan sifat dan kesesuaiannya dengan lahan.

Bawang putih varietas Lumbu Putih cocok ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 0-300 meter dpl. Dia menghendaki tanah jenis lempung berpasir. Derajat keasaman (pH) tanah yang dibutuhkan antara 6,5 – 7. Suhu yang optimum untuk pertumbuhannya rata-rata 20-26 derajat Celcius, di samping persyaratan itu, bawang putih juga membutuhkan kesejukan.

Hujan merupakan penghambat produksi yang cukup besar perannya, karena bisa mengundang jasad pengganggu. Berikut ini cara bertanam bawang putih menurut Tukijo H., Mihartono dan Harono Prasojo.

Persiapan Lahan Bawang Putih

Menurut pendapat mereka bertiga, bawang putih memang merupakan tanaman yang tidak tahan hujan. Jadi waktu tanam yang baik adalah bulan Mei – Juni. Hal ini pula yang membuat Dinas Pertanian DIY mengupayakan bawang putih untuk masuk dalam pola tanam khusus musim kemarau. Dalam satu tahun, di Bantul dan Gunung Kidul hanya dapat ditanam satu kali.

Tapi sebetulnya bisa diusahakan penanaman lebih dari satu kali dengan penggunaan kerudung plastik. Kerudung plastik ini dimaksudkan untuk menangkal air hujan agar tidak menimpa tanaman. Tentu saja plastik itu jangan tertutup sepenuhnya. Krudung plastik bisa dipasang memanjang pada bedengan dan pada kiri-kanan kerudung terbuka sehingga aliran udara tetap lancar. Apabila aliran udara lancar, maka dalam kerudung tidak terjadi peningkatan suhu dan kelembapan, yang dikhawatirkan merangsang serangan jamur dan jasad pengganggu lain.

Pemakaian kerudung plastik ini bisa diimbangi dengan peninggian bedengan dan drainase yang baik sehingga tanaman bawang tidak tergenang bila terjadi hujan deras. Dengan cara ini tentu saja ada biaya ekstra untuk membuat kerudung plastik.

Tanah dicangkul 2 kali, kemudian dibuat bedengan dengan ukuran lebar 1,25 meter dan panjang 5 meter, 10 meter atau sesuai dengan kebutuhan. Jarak antar bedengan 25 – 30 cm, demikian pula tinggi tanah dan bedengan. Selanjutnya tanah dibiarkan. Seminggu kemudian, pupuk kandang dengan dosis 20 ton / ha ditaburkan di atasnya dan dengan menggunakan cangkul pupuk dicampur rata dengan tanah. Selain pupuk kandang sebagai pupuk dasar, dugunakan pula TSP, KCI dan ZA, masing-masing dengan dosis 200 kg, 50 kg dan 50 kg. Pupuk kimia ini diaplikasikan sehari sebelum tanam.

Bibit Bawang Harus Prima

Untuk menghasilkan tanaman dengan produksi baik, bibit yang digunakan harus benar-benar baik. Kriteria bibit yang baik antara lain umurnya pada saat dipanen, antara 100-120 hari dan telah mengalami penyimpanan selama 7-9 bulan. Bibit beraroma sedap, mengkilap dan umbinya keras. Sedapat mungkin, bibit bebas penyakit sejak dari induknya dulu. Kebutuhan bibit 3-4 kuaintal per hektar.

Penanaman Bawang Putih

Bibit yang akan ditanam dipipil menjadi siungan, lalu direndam dalam air tawar 8-10 jam. Perendaman dimaksudkan agar pertumbuhan bibit serentak. Setelah direndam, bibit ditanam dengan jarak tanam 15 x 10 cm. Satu lubang tanam diisi satu siung bibit. Cara menanamnya harus tegak dengan kedalaman sebatas permukaan tanah. Bila penanaman selesai, di atas bibit dilapis tanah tipis dan ditaburi Furadan, Curater atau Dharmafur dengan dosis 30 kg/ha.

Baca Juga Artikel Lainnya :
Perawatannya

Selain pupuk dasar, tanaman bawang putih memerlukan pupuk susulan yang diberikan 3 kali. Pemupukan pertama dilakukan 20 hari setelah tanam dengan ZA, dosisnya 100 kg/ha. Selanjutnya bila tanaman berumur 30 hari, disusulkan pupuk kedua berupa ZA 75 kg/ha dan KCI 50 kg/ha ketika tanaman berumur 45 – 50 hari, diberi pupuk terakhir ini berupa ZA sebanyak 125 kg/ha dan ureanya 25 kg/ha. Cara pemupukannya dengan membuat alur di dekat barisan tanaman.

Penyiraman dilakukan 1 – 2 kali sehari, pagi dan sore. Sebenarnya frekuensi penyiraman lebih tergantung pada cuaca dan jenis tanah. Tanah berpasir, diairi dengan cara digenangi. Sebaliknya bila tanahnya lengket/berlempung pengairan cukup disiram dengan gembor.

Untuk mencegah serangan hama dan gulma perlu aplikasi pestisida. Herbisida Goal 2E atau Rilof digunakan sebagai pencegah pertumbuhan gulma pada saat tanam. Bila tanaman terserang trips ditanggulangi dengan penyemprotan Lebaycid dan Diazinon dengan konsentrasi 1-1,5 cc/1. Penyemprotan dilakukan dengan interval 7 hari.

Sebetulnya, pengganggu bawang yang termasuk kelas berat adalah penyakit trotol (bercak ungu) yang disebabkan oleh jamur Alternaria porri. Anjuran pengendaliannya menggunakan Dithane M 45 dengan konsentrasi 2 gram/1, atau 700-840 gram/ha setiap kali semprot. Interval penyemprotan 7 hari mulai tanam hingga 10 minggu. Selain dengan pestisida, pengendalian pengganggu bisa ditunjang dengan pergiliran tanaman untuk menurunkan populasi jasad pengganggu dan membuang serta memusnahkan tanaman yang telah terserang.

Panen Bawang Putih

Bawang putih varietas Lumbu Putih dapat dipanen pada umur 90-120 hari. Bila hasil panen untuk konsumsi, bisa dipanen umur 90-100 hari. Sedangkan untuk bibit umur panen harus mencapai 100-120 hari agar mutu bibitnya baik. Semakin tua umur panen, semakin baik untuk dijadikan bibit. Tanaman yang siap panen mempunyai ciri-ciri daun mengering 90 %, pangkal batang lemas dan berwarna kuning, serta umbinya keras. Agar panennya mudah, sehari sebelum panen tanaman disiram sehingga tanahnya lunak. Cara panennya, dicabut atau diungkit, dengan bambu agar tidak merusak umbi.

Pasca Panen

Selain pemeliharaan, faktor yang ikut menentukan mutu produksi adalah penanganan pasca panen. Menurut Hartono setelah umbi dicabut sebaiknya ditaruh di atas “kepang” untuk penjemuran. Pada saat penjemuran, di atas umbi perlu dilapisi daun-daunnya untuk menghindari sinar matahari langsung yang akan membuat umbi hangus. Lain halnya dengan Mihartono. Dia hanya menjemur sehari saja hasil panennya, kemudian mengikat dan meletakkannya di “pogo” (semacam para-para) untuk penyimpanan selama 8-9 bulan.

Pasca panen yang dilakukan oleh Tukijo H. Lain lagi, setelah disortir, umbi yang memenuhi syarat untuk bibit diikat-ikat. Kemudian dicelupkan dalam Sevin, Dursban, atau Nuvacron untuk mencegah serangan hama dengan dosis 2 sendok makan tiap 15 liter. Selanjutnya bawang dikeringkan di para-para yang terlindung sampai 2 minggu, baru disimpan di ruangan khusus. Untuk menjamin bibit tetap sehat selama 10 bulan dalam penyimpanan, paling tidak dilakukan 2-3 kali penyemprotan dengan pestisida yang sama. Sedangkan hasil panen untuk konsumsi langsung dijual setelah dipotong daunnya.

Dengan melakukan cara budidaya bawang putih dengan tepat dan didukung lingkungan yang sesuai, jelas keuntungan yang diperoleh tidak akan mengecewakan.

Minggu, 13 September 2015

APBN-P 2015 Dukung Kemajuan Upsus

PENYULUH PERTANIAN DESA RIWO KECAMATAN WOJA KAB. DOMPU | Minggu, 13 September 2015,09.27 | Be the first to comment!

Petani memasang pupuk tablet Pamafert pada tanaman padi usia dua pekan, di Desa Tanjung, Pademawu, Pamekasan, Jatim, Sabtu (9/5). Selain dapat meningkatkan produksi padi hingga 20 persen, pupuk ini, juga praktis karena hanya sekali aplikasi dan tidak perlu pemupukan lagi, hingga masa panen, serta tidak akan terjadi kelangkaan seperti yang terjadi pada pupuk bersubsidi. ANTARA FOTO/Saiful Bahri/Asf/nz/15.


APBN-P 2015 Dukung Kemajuan Upsus Pajale

(Berita Daerah – Nasional) Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa upaya khusus bagi percepatan swasembada komoditas padi, jagung, dan kedelai (upsus pajale) mengalami kemajuan berkat dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015.
Menteri Andi Amran di Jakarta, Rabu (3/6) mengatakan jika dukungan anggaran contingency 2014, APBN re-focusing 2015, maupun APBN-P 2015 telah berdampak pada kemajuan kinerja di lapangan. Dukungan anggaran tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk meningkatkan sektor pertanian di Indonesia.
Mentan menjelaskan dampak positif yang terjadi ialah pada aspek percepatan tanam, peningkatan indeks pertanaman, peningkatan luas tambah tanam, dan jumlah produksi pada masa panen raya. Seperti contohnya dalam masa panen raya kali ini produktivitas padi pada umumnya cukup tinggi yaitu sekitar tujuh hingga sembilan ton.

Sedangkan yang terkait dengan upsus pajale tersebut, terdapat kemajuan yang berhasil dicapai yaitu pada peningkatan luas lahan pada masa tanam bulan Oktober 2014 hingga Maret 2015 jika dibandingkan dengan masa tanam tahun sebelumnya. Capaian luas tambah tanam kurang lebih sebesar 400-500 ribu hektare dibanding (masa tanam) Oktober-Maret di tahun sebelumnya.
Tambahan luas lahan pada masa tanam tersebut merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah dan apabila dihitung secara kasar, maka capaian sebenarnya bisa mencapai 800 ribu hektare karena pada masa tanam tersebut tercatat penyaluran pupuk mencapai 265 ribu ton.

Mentan menambahkan pada saat pihaknya mengunjungi PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) ada tambahan pupuk sebesar 265 ribu ton. Apabila ini dibagi dengan 300 kwintal, maka bisa mencapai 800 ribu hektare pada periode Oktober-Maret. Mentan juga sudah melaporkan kepada Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), bahwa peningkatan tambah tanam tersebut juga diiringi dengan kenaikan penambahan pupuk.

Sementara itu Pada tahun 2015 ini pemerintah menargetkan produksi padi secara nasional mencapai 73 ton gabah kering giling (GKG). Jumlah tersebut meningkat 4,3 persen dibandingkan produksi tanaman padi pada tahun lalu yang hanya sebesar 70 juta ton GKG.

Untuk dapat merealisasikan terget tersebut, Mentan menargetkan di tahun 2015 ini produksi padi setiap provinsi bisa naik sekitar 5 hingga 10 persen dibandingkan pencapaian pada tahun 2014.

Minggu, 06 September 2015

Teknik Penyemprotan Pestisida Pada Tanaman Padi

PENYULUH PERTANIAN DESA RIWO KECAMATAN WOJA KAB. DOMPU | Minggu, 06 September 2015,20.51 | Be the first to comment!
Teknik Penyemprotan Pestisida Pada Tanaman Padi yaitu sebagai berikut:

1. Tepat Waktu 


Yang dimaksud tepat waktu adalah:
  • jangan menyemprot terlalu pagi di karnakan masih banyak embun di khawatirkan banyak pestisida yang ikut terjatuh bersamaan jatuhnya embun tersebut
  • jangan terlalu terik atau panas antara jam 11.00-14.00 Wib karena kalau nyemprot pada jam-jam tersebut suhu lagi panas-panasnya, belum juga pestisida itu menempel pada daun dan sudah menguap terlebih dahulu oleh sinar matahari, ya mungkin masih ada yang menempel sih tapi tidak maksimal karena ada sebagian yang menguap oleh terik sinar matahari tersebut belum lagi tubuh kita yang berkeringat berlebihan dan pada saat berkeringat itu pori-pori tubuh kita membuka di khawatirkan ada pestisida yang masuk ke dalam pori-pori tubuh kita. jadi lebih baik jangan menyemprot di jam-jam tersebut
  • jangan menyemprot di saat banyak angin apalagi menyemprotnya melawan angin di kahawtirkan pestisida itu mengenai muka kita dan terhirup oleh kita dan pastinya akan meracuni diri kita sendiri
  • jangan menyemprot di waktu hujan karena jelas hanya akan membuang buang pestisida secara percuma saja karena pastinya banyak pestisida yang tercuci oleh air hujan bukannya melindungi tanaman dari hama penyakit tapi hanya membuang-buang pestisida secara percuma alias membuang duit secara percuma udah mah kita beli mahal-mahal tapi terbuang sia-sia bukan itu saja tenaga kita pun terbuang sia-sia juga.
  • usahakan menyemprot pestisida itu sebelum terjadi serangan hama penyakit dalam arti jangan menyemprot nunggu sesudah terserang parah tapi semprot lah sebelum adanya serangan atau baru berupa gejala itu waktu yang tepat. 

2. Tepat Dosis

 Yang dimaksud tepat dosis yaitu:

  • Gunakan dosis sesuai anjuran perusahaan pestisida yang tertera pada label pestisida, hitung lah terlebih dahulu dosis anjuran yang tertera pada label, misal dosis pestisida X untuk tanaman padi itu 200 ml perHektar sedangkan lahan yang kita punya cuma 3000m persegi berarti cara menghitungnya adalah 3000m/10000m di kali 200ml = 60ml. 10000 adalah luasan Hektar, jadi dalam luasan 3000m itu cukup 60ml saja, atau bisa juga dengan menghitung melihat anjuran yang tertera pada label pestisida tersebut misalkan pada label itu untuk tanaman padi : 1-2 ml/L berarti kita tinggal kalikan saja dengan volume Tangki semprot yang akan kita pakai, misal tangki yang kita pakai itu ukuran 14 L berarti kita kalikan 14 dan bila dosis yang kita pakai 2 ml/L berarti dosis untuk tangki ukuran 14 Liter adalah 2x14=28 ml untuk satu Tangki. 

3. Tepat Pestisida 

Yang dimaksud tepat pestisida adalah:
  • Misalkan tanaman padi kita itu kena hama Sundep maka pestisida yang harus kita semprotkan adalah insektisida yang bisa menanggulangi sundep tersebut jangan sekali di semprot dengan Herbisida atau fungisida atau moluskisida karena kalau di semprot dengan selain insektisida yang bisa menanggulangi hama sundep tersebut maka jangan harap tanaman padi kita itu membaik yang ada malah semakin parah akibatnya kita menyalahkan pestisida tersebut padahal bukan salah pestisidanya tapi salah kitanya yang tidak mengerti kegunaan dari pestisida itu sndiri. kalau demikian kita harus mengerti dulu apa yang dinamakan insektisida, apa itu fungisidia apa itu herbisida apa itu moluskisida, bakterisida dll, insektisida adalah berasal dari dua kata yaitu insek dan sida insek adalah serangga dan sida adalah racun jadi insektisida adalah racun khusu untuk serangga atau Hama. sedangkan Fungisida adalah Fungi itu jamur dan sida itu racun jadi fungsida adalah racun untuk tanaman yang disebabkan oleh jamur, dan Herbisida adalah Herbi itu rumput atau dan sida itu racun jadi Herbisidia adalah racun untuk Rumput pengganggu tanaman inti. sedangkan Moluskisida adalah Moluskas itu Keong atau sejenis Keong dan sida itu racun jadi Moluskisida adalah racun untuk membunuh Keong. di lihat dari namanya yang berbeda-beda maka kegunaannya pun berbeda-beda jadi kita harus teliti dalam memilih atau menggunakan pestisida yang akan kita semprotkan pada tanaman kita jangan sampai kita sudah buang tenaga buang duit dan buang waktu untuk nyemprot pestisida itu tapi tidak ada perubahan yang lebih baik pada tanaman padi kita malah menambah rusak pada tanaman kita atau tidak ada reaksi apapun kan sayang. 

4. Tepat aplikasi

Yang dimaksud tepat aplikasi yaitu: 
  • Tepat dalam pengaplikasian pestisida maksudnya jangan mengaplikasikan pestisida setelah atau sesudah parah terjadi serangan hama penyakit melainkan aplikasikan atau semprotkan lah sebelum terjadinya serangan hama penyakit ya paling tidak baru cuma ada gejala lah kita aplikasikan atau kita semprot, karena kalau sudah terjadi serangan hama penyakit itu hanya untuk meminimalisir saja tidak untuk memusnahkan atau melenyapkan seluruhnya jadi kalau mengaplikasikan pas sudah terjadi serangan hama penyakit itu menurut saya tidak maksimal atau kurang memuaskan. 

5. Tepat Cara 

Yang dimaksud tepat cara adalah:
  • Bila kita hendak menyemprot pestisida perhatikanlah cara-cara menyemprot pestisida yang baik dan benar, mulai dari pestisidanya, dosisnya, waktunya dan caranya. dan cara meyemprot pestisida yang baik dan benar adalah pertama kita persiapkan tangkinya yang kedua kita perhatikan sprayernya karena sprayer itu sendiri banyak macamnya ada yang sprayer lubang empat ada yang sprayer lubang 2 dan ada juga sprayer lubang satu, dan fungsinya juga beda-beda antara sprayer lubang satu lubang dua dan sprayer lubang empat. kalau sprayer lubang empat khusus untuk nyemprot Herbisida kalau lubang dua untuk tanaman sayur-sayuran dan lubang empat untuk tanaman Padi

Cara Pengendalian Penyakit Tungro Pada Tanaman Padi

PENYULUH PERTANIAN DESA RIWO KECAMATAN WOJA KAB. DOMPU | ,20.39 | Be the first to comment!
Tungro adalah penyakit virus pada padi yang biasanya terjadi pada fase pertumbuhan vegetatif dan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai kuning-oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi. Dua spesies wereng hijau Nephotettix malayanus dan N.virescens adalah serangga yang menyebarkan (vektor) virus tungro. 

Cara pengendalia
Pada prinsipnya penyakit tungro tidak dapat dikendalikan secara langsung artinya, tanaman yang telah terserang tidak dapat disembuhkan.Pengendalian bertujuan untuk mencegah dan meluasnya serangan serta menekan populasi wereng hijau yang menularkan penyakit. Mengingat banyaknya faktor yang berpengaruh pada terjadinya serangan dan intensitas serangan, serta untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, upaya pengedalian harus dilakukan secara terpadu yang meliputi : 

1. Waktu tanam tepat 
Waktu tanam harus disesuaikan dengan pola fluktuasi populasi wereng hijau yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu.Waktu tanam diupayakan agar pada saat terjadinya puncak populasi, tanaman sudah memasuki fase generatif (berumur 55 hari atau lebih).Karena serangan yang terjadi setelah masuk fase tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. 

2. Tanam serempak 
Upaya menanam tepat waktu tidak efektif apabila tidak dilakukan secara serempak. Penanaman tidak serempak menjamin ketersediaan inang dalam rentang waktu yang panjang bagi perkembangan virus tungro, sedangkan bertanam serempak akan memutus siklus hidup wereng hijau dan keberadaan sumber inokulum. Penularan tungro tidak akan terjadi apabila tidak tersedia sumber inokulum walaupun ditemukan wereng hijau, sebaliknya walaupun populasi wereng hijau rendah akan terjadi penularan apabila tersedia sumber inokulum. 

3. Menanam varietas tahan 
Menanam varietas tahan merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit tungro.Varietas tahan artinya mampu mempertahankan diri dari infeksi virus dan atau penularan virus oleh wereng hijau.Walaupun terserang, varietas tahan tidak menunjukkan kerusakan fatal, sehingga dapat menghasilkan secara normal. Sejumlah varietas tahan yang dianjurkan untuk daerah NTB antara lain: Tukad Patanu, Tukad Unda, Bondoyudo dan Kalimas. IR-66, IR-72 dan IR-74.Sejumlah varietas Inpari yang baru dilepas juga dinyatakan tahan tungro. Hasil penelitian di daerah endemis membuktikan Tukad Unda cukup tahan dengan intensitas serangan 0,0%-9,14% sedangkan varietas peka IR-64 berkisar 16,0%-79,1%. Penelitian di Lanrang Sulawesi Selatan juga menunjukkan daya tahan Tukad Patanu terhadap tungro dengan intensitas serangan 18,20% sedangkan varietas peka Ciliwung mencapai 75,7%. 

4. Memusnahkan (eradikasi) tanaman terserang 
Memusnahkan tanaman terserang merupakan tindakan yang harus dilakukan untuk menghilangkan sumber inokulum sehingga tidak tersedia sumber penularan. Eradikasi harus dilakukan sesegera mungkin setelah ada gejala serangan dengan cara mencabut seluruh tanaman sakit kemudian dibenamkan dalam tanah atau dibakar. Pada umumnya petani tidak bersedia melakukan eradikasi karena mengira penyakit bisa disembuhkan dan kurang memahami proses penularan penyakit. Untuk efektifitas upaya pengendlian, eradikasi mesti dilakukan diseluruh areal dengan tanaman terinfeksi, eradikasi yang tidak menyeluruh berarti menyisakan sumber inokulum. 

5. Pemupukan N yang tepat 
Pemupukan N berlebihan menyebab-kan tanaman menjadi lemah, mudah terserang wereng hijau sehingga memudahkan terjadi inveksi tungro, karena itu penggunaan pupuk N harus berdasarkan pengamatan dengan Bagan Warna Daun (BWD) untuk mengetahui waktu pemupukan yang paling tepat. Dengan BWD, pemberian pupuk N secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan tanaman sehingga tanaman tidak akan menyerap N secara berlebihan. 
 
6. Penggunaan pestisida
Penggunaan pestisida dalam mengendalikan tungro bertujuan untuk eradikasi wereng hijau pada pertanaman yang telah tertular tungro agar tidak menyebar ke pertanaman lain dan mencegah terjadinya infeksi virus pada tanaman sehat. Penggunaan insektisida sistemik butiran (carbofuran) lebih efektif mencegah penularan tungro. Mengingat infeksi virus dapat terjadi sejak di pesemaian, sebaiknya pencegahan dilakukan dengan antara lain tidak membuat pesemaian di sekitar lampu untuk menghindari berkumpulnya wereng hijau di pesemaian dan menggunakan insektisida confidor ternyata cukup efektif. Insesektisida hanya efektif menekan populasi wereng hijau pada pertanaman padi yang menerapkan pola tanam serempak. Karena itu pengendalian penyakit tungro yang sangat berbahaya akan berhasil apabila dilakukan secara bersama-sama dalam hamparan relatif luas, utamakan pencegahan melalui pengelolaan tanaman yang tepat (PTT) untuk memperoleh tanaman yang sehat sehinga mampu bertahan dari ancaman hama dan penyakit. 
Permasalahan mengenai penyakit tungro harus lebih diperhatikan oleh peneliti bidang pertanian, juga oleh petani.Karena apabila penyakit ini diabaikan maka panen padi yang diharapkan dapat hilang karena padi terserang penyakit tungro.Menurut saya harus ada Varietas baru yang tahan dengan serangan wereng hijau maupun serangan penyakit tungro. Selain itu petani harus pintar dalam mengendalikan penyakit tungro sedini mungkin, ketika timbul gejala serangan, petani langsung tanggap dan langsung mengatasi masalah/serangan OPT tersebut.